![]() |
Bagi mereka nggak gaul kalau belum punya
media sosial bahkan bisa dikatakan kudet (kurang update). Aktifitas
belajar mengajarpun disekolah menuntut
tidak jauh dari media sosial. Karena pelajar akan mudah mendapatkan
informasi yang mereka tidak dapatkan di sekolah ataupun di buku pelajaranya.
Untuk mengatasi hal itu, maka pelajar cenderung lebih memilih media sosial sebagai
jalan pintas yang praktis untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan,
misalkan di blog/website dll. Bahkan, ada juga segelintir pelajar memanfaatkan
langsung kelebihan media sosial ini sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan
informasi atau bahan pelajaranya tanpa harus membuka buku referensinya satu
per-satu. Bayangkan saja, seakan-akan pelajar termanjakan dengan hadirnya sosok
internet dan media sosial. Sehingga mengesampingkan proses. Yang mana proses
itulah yang akan selalu membekas di ingatan kita. Pasti selalu ingat, bukan
lupa-lupa ingat seperti lagu hist-nya Kuburan Band “Lupa-lupa Ingat”.
Hee
Tidak hanya itu, media sosial
juga berpotensi membuat candu bagi pelajar. Kok bisa? Bisa lah. Bukan hanya
rokok dan kopi saja yang membuat seseorang bisa kecanduan. Media sosial pun
bisa. Sederhananya, anak muda biasa berdiam diri dengan ponselnya hanya untuk
sekedar chatingan di media sosial.
Bisa satu jam, dua jam, tiga jam, ada juga dari malam, sampai tengah malam. Eh,
ujung-ujungnya bablas juga sampai pagi. Terus, waktu buat belajar kapan? Saking
asyiknya terkadang juga sampai ada yang lupa makan. Sholat pun iya. Anehnya,
setelah selesai sholat pun yang di ambil pertama kali untuk berdzikiran bukan
tasbihnya namun ponselnya. Astaghfirulloh. Seolah-olah ponsel bak seorang kekasih yang tidak bisa
berjauhan.
Namun jangan salah, kehadiran media
sosial juga memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi pendidikan Indonesia.
Pemanfaatan media sosial kini banyak terjadi pada proses pendidikan jarak jauh di mana proses belajar
mengajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas, jarak, dan waktu. Sehingga
proses pendidikan tidak monoton. Media sosial telah menjadi pelengkap dalam
proses penyampaian informasi secara digital, namun kehadirannya juga tidak
serta merta menggantikan posisi media belajar lain seperti media cetak.
Ya, kolaborasi antara internet,
operator penyedia data, produsen komputer dan ponsel menghasilkan jembatan
komunikasi yang menghubungkan banyak pihak dengan banyak kepentingan. Inilah
hasil kreasi teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan sekaligus
keburukan. Tergantung siapa yang menggunakannya. Untuk itu, pelajar harus mampu
mengambil nilai-nilai positif dari media sosial agar mereka dapat menikmati
hasilnya yang baik dengan efek yang baik pula. Media sosial itu ibarat dua mata
pisau. Bisa digunakan untuk melukai, bisa juga untuk kebaikan. Harapannya, media
sosial itu tunduk di hadapan para pelajar Indonesia. Demikian sebuah catatab kecil tentang Pelajar Dan Media Sosial



