Artikel Terkini

Pelajar dan Media Sosial


Maligo News -  Medsos (media sosial)  memang fenomenal! Sekarang, hampir semua orang mengenal  bahkan memiliki media sosial. Facebook, Twitter, Instagram, Line , WhatsApp dan seterusnya. Nah, siapa para pengguna media sosial itu? Tentu saja kebanyakan adalah kaum muda yang notabenenya adalah pelajar. Sepertinya tidak perlu survei yang rumit untuk membuktikan hal itu. Para pengguna media sosial seperti Facebook saja kebanyakan pelajar. Lihat saja di profil faceboknya akan muncul “Pernah belajar di SMK Ma’arif 5 Gombong” misalnya.

Bagi mereka nggak  gaul kalau belum punya media sosial bahkan bisa dikatakan kudet (kurang update). Aktifitas belajar mengajarpun disekolah menuntut  tidak jauh dari media sosial. Karena pelajar akan mudah mendapatkan informasi yang mereka tidak dapatkan di sekolah ataupun di buku pelajaranya. Untuk mengatasi hal itu, maka pelajar cenderung lebih memilih media sosial sebagai jalan pintas yang praktis untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan, misalkan di blog/website dll. Bahkan, ada juga segelintir pelajar memanfaatkan langsung kelebihan media sosial ini sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan informasi atau bahan pelajaranya tanpa harus membuka buku referensinya satu per-satu. Bayangkan saja, seakan-akan pelajar termanjakan dengan hadirnya sosok internet dan media sosial. Sehingga mengesampingkan proses. Yang mana proses itulah yang akan selalu membekas di ingatan kita. Pasti selalu ingat, bukan lupa-lupa ingat seperti lagu hist-nya Kuburan Band “Lupa-lupa Ingat”. Hee

Tidak hanya itu, media sosial juga berpotensi membuat candu bagi pelajar. Kok bisa? Bisa lah. Bukan hanya rokok dan kopi saja yang membuat seseorang bisa kecanduan. Media sosial pun bisa. Sederhananya, anak muda biasa berdiam diri dengan ponselnya hanya untuk sekedar chatingan di media sosial. Bisa satu jam, dua jam, tiga jam, ada juga dari malam, sampai tengah malam. Eh, ujung-ujungnya bablas juga sampai pagi. Terus, waktu buat belajar kapan? Saking asyiknya terkadang juga sampai ada yang lupa makan. Sholat pun iya. Anehnya, setelah selesai sholat pun yang di ambil pertama kali untuk berdzikiran bukan tasbihnya namun ponselnya. Astaghfirulloh. Seolah-olah ponsel bak seorang kekasih yang tidak bisa berjauhan.
Namun jangan salah, kehadiran media sosial juga memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi pendidikan Indonesia. Pemanfaatan media sosial kini banyak terjadi pada proses pendidikan jarak jauh di mana proses belajar mengajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas, jarak, dan waktu. Sehingga proses pendidikan tidak monoton. Media sosial telah menjadi pelengkap dalam proses penyampaian informasi secara digital, namun kehadirannya juga tidak serta merta menggantikan posisi media belajar lain seperti media cetak.

Ya, kolaborasi antara internet, operator penyedia data, produsen komputer dan ponsel menghasilkan jembatan komunikasi yang menghubungkan banyak pihak dengan banyak kepentingan. Inilah hasil kreasi teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan sekaligus keburukan. Tergantung siapa yang menggunakannya. Untuk itu, pelajar harus mampu mengambil nilai-nilai positif dari media sosial agar mereka dapat menikmati hasilnya yang baik dengan efek yang baik pula. Media sosial itu ibarat dua mata pisau. Bisa digunakan untuk melukai, bisa juga untuk kebaikan. Harapannya, media sosial itu tunduk di hadapan para pelajar Indonesia. Demikian sebuah catatab kecil tentang Pelajar Dan Media Sosial